Kamis, 27 Juni 2013

Tempramental Fluktuatif

Hari ke-enam belas di bulan keenam di tahun ke tiga ribu enambelas dikurang tiga tahun!

                Entah ini sebuah paradox atau ironi, aku tak pernah mengerti akan kelabilan manusia yang bertingkah layaknya zombie, pemakan otak manusia dan mempertuhankan pendapat-pendapat manusia yang dianggap patut dan layak untuk ditiru *seperti ini*
                Sore ini aku terjebak dalam konversasi meja
persegi panjang yang dihangat-hangatkan. Aku menyeruput es campur yang tadi kupesan, sekedar memberi sedikit rasa akan percakapan hambar ini. Lagi-lagi soal agama, ah membosankan, membahas halal haram,baik buruk, menurut mereka, atau mungkin menurut konsep tuhan dan nabi dalam otak mereka.
                Ada tujuh kepala disini termasuk aku,  kepala yang pertama kupikir ia cukup banyak mendengar tentang dongeng-dongeng dari agama yang dianutnya, itu tercermin dari kata-katanya yang mengagung-agungkan seorang nabi yang membuat kaumnya lelah setiap hari harus menjunjung nabi mereka.  Sepertinya ia seorang penganut agama otoriter dan fanatis! Kepala yang kedua pemikirannya tak jauh beda dari kepala pertama, ini terlihat jelas dari intensitasnya mengucap kata “iya” bah!” ketika kepala pertama memuntahkan retorikanya. Kepala ketiga dan keempat sepetinya hanyalah seekor followers. Sementara kepala kelima dan keenam adalah mahluk apatis, seolah menampikkan tuhan dalam konsep empat kepala yang berusaha diseragamkan.
                Lalu kepala yang ketujuh, aku sendiri jelas-jelas malas membahas ini, aku tak suka membahas tuhan dan segala ajaran dan ganjarannya! Aku tersudutkan dalam percakapan ini!
                Es campurku perlahan habis! Tak ada lagi penyejuk ditengah gejolak percakapan ini yang semakin menggila. Hingga pada titik terjenuh percakapan ini membahas tentang halal haram pernikahan!  kepala petama melemparkan jala pernyataannya  katanya ia ingin “menikah muda” kepala kedua mengiyakan begitupun ketiga dan keempat. Mereka larut dalam ilusi mereka yang kini mulai hampir setara. Saling mengiyakan, walau sebenarnya ada yang tak sejalan namun mereka ragu mematahkan pendapat tuhan dan asistennya (nabi) yang tak memberi pilihan lain kecuali “SEMBAHLAH AKU!”
                Bunyi kidung agung terdengar membahana di udara senja ini, percakapan ini mereka akhiri  mereka berjalan menuju tempat ibadah guna mensucikan diri seperti titah tuhan mereka. Aku duduk berdua dengan kepala keenam, sembari menunggui kepala-kepala tadi menyembah tuhannya. Kepala keenam  memang selalu terlihat apatis seperti aku. Aku mencari-cari disekitarku kucari kepala kelima yang kupikir sangat apatis pula akan hal ini, dan kudapati ia sujud di dalam rumah tuhan bersama kepala-kepala lain.
               

                Tinggallah aku bersama kepala keenam, yang sepertinya masih memproses materi percakapan tadi, mungkin saja pemikirannya akan sama dengan kepala kelima satu dua dan tiga, dan menjadi ummat suci kesayangan tuhan mereka!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar