Sabtu, 12 Oktober 2013

Idealis Utopis

Aku baru saja menamatkan 237 buku
Aku jadi lebih bisa diterima di umum
Menurutku, tiap kosakata harus ditaburi bumbu
Lihat saja, kusindirpun mereka tak tahu.. hahaha

Ketika berbicara dengan para proletar
Aku selalu memberinya bumbu-bumbu pemanis kata
Aku seperti anomaly, borjuis kapitalis hegemoni kudeta kontroversi dan
konspirasi di intervensi seiring kupercikkan ludah-ludah panasku!
 

Oh iya satu lagi yang kurang,
dulu… aku terkenal dengan sebutan “Gondrong tak berilmu”
lalu.. kubuang semua kutu, kupangkas habis rambutku…
alasanku masuk akal, panas, gatal, dan agak bau..
Tapi aku tak bisa melepas topeng seringai dikepalaku
Padahal tak jarang aku dihantarkan “malu” oleh itu…

Dan kini aku seperti kaum-kaum borjuis intelek
Dengan rambut cepak membuat gadis-gadis bergincu tak bisa mengelak
Kuhamburkan retorika cintaku lewat gelak
Walau terkadang selalu berujung pada pukulan telak..

Mungkin itu yang menghempaskanku ke taman baca
Sebenarnya aku benci buku bacaannya, tapi disana banyak ganja
Aku berpesta sembari menahan tawa lewat gesture membaca
Seperti Plato lah kelihatannya dari kejauhan, tak ada yang bakal mendengarkanku tertawa.. hahaha

Buah pikirku menjadi beribu rencana, kupikir akan matang dan menguning
Nyatanya, bunganya membusuk oleh angin oktober yang menusuk..

Semu, dan sebatas konsep ide utopis
Seperti fatamorgana di gurun tropis
Ah ! jabatan, gelar, citra, ganja, dan gadis-gadis,

 Semuanya mati menungguku di kubangan manusia berbau amis!Aku baru saja menamatkan 237 buku
Aku jadi lebih bisa diterima di umum
Menurutku, tiap kosakata harus ditaburi bumbu
Lihat saja, kusindirpun mereka tak tahu.. hahaha

Ketika berbicara dengan para proletar
Aku selalu memberinya bumbu-bumbu pemanis kata
Aku seperti anomaly, borjuis kapitalis hegemoni kudeta kontroversi dan
konspirasi di intervensi seiring kupercikkan ludah-ludah panasku!

Oh iya satu lagi yang kurang,
dulu… aku terkenal dengan sebutan “Gondrong tak berilmu”
lalu.. kubuang semua kutu, kupangkas habis rambutku…
alasanku masuk akal, panas, gatal, dan agak bau..
Tapi aku tak bisa melepas topeng seringai dikepalaku
Padahal tak jarang aku dihantarkan “malu” oleh itu…

Dan kini aku seperti kaum-kaum borjuis intelek
Dengan rambut cepak membuat gadis-gadis bergincu tak bisa mengelak
Kuhamburkan retorika cintaku lewat gelak
Walau terkadang selalu berujung pada pukulan telak..

Mungkin itu yang menghempaskanku ke taman baca
Sebenarnya aku benci buku bacaannya, tapi disana banyak ganja
Aku berpesta sembari menahan tawa lewat gesture membaca
Seperti Plato lah kelihatannya dari kejauhan, tak ada yang bakal mendengarkanku tertawa.. hahaha

Buah pikirku menjadi beribu rencana, kupikir akan matang dan menguning
Nyatanya, bunganya membusuk oleh angin oktober yang menusuk..

Semu, dan sebatas konsep ide utopis
Seperti fatamorgana di gurun tropis
Ah ! jabatan, gelar, citra, ganja, dan gadis-gadis,
 Semuanya mati menungguku di kubangan manusia berbau amis!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar