Aku baru saja
menamatkan 237 buku
Aku jadi lebih
bisa diterima di umum
Menurutku, tiap
kosakata harus ditaburi bumbu
Lihat saja,
kusindirpun mereka tak tahu.. hahaha
Ketika berbicara
dengan para proletar
Aku selalu
memberinya bumbu-bumbu pemanis kata
Aku seperti
anomaly, borjuis kapitalis hegemoni kudeta kontroversi dan
konspirasi di
intervensi seiring kupercikkan ludah-ludah panasku!
Oh iya satu lagi
yang kurang,
dulu… aku
terkenal dengan sebutan “Gondrong tak berilmu”
lalu.. kubuang
semua kutu, kupangkas habis rambutku…
alasanku masuk
akal, panas, gatal, dan agak bau..
Tapi aku tak bisa
melepas topeng seringai dikepalaku
Padahal tak
jarang aku dihantarkan “malu” oleh itu…
Dan kini aku
seperti kaum-kaum borjuis intelek
Dengan rambut
cepak membuat gadis-gadis bergincu tak bisa mengelak
Kuhamburkan
retorika cintaku lewat gelak
Walau terkadang
selalu berujung pada pukulan telak..
Mungkin itu yang
menghempaskanku ke taman baca
Sebenarnya aku
benci buku bacaannya, tapi disana banyak ganja
Aku berpesta
sembari menahan tawa lewat gesture membaca
Seperti Plato lah
kelihatannya dari kejauhan, tak ada yang bakal mendengarkanku tertawa.. hahaha
Buah pikirku
menjadi beribu rencana, kupikir akan matang dan menguning
Nyatanya,
bunganya membusuk oleh angin oktober yang menusuk..
Semu, dan sebatas
konsep ide utopis
Seperti
fatamorgana di gurun tropis
Ah ! jabatan,
gelar, citra, ganja, dan gadis-gadis,
Semuanya mati menungguku di kubangan manusia
berbau amis! Aku baru saja
menamatkan 237 buku
Aku jadi lebih
bisa diterima di umum
Menurutku, tiap
kosakata harus ditaburi bumbu
Lihat saja,
kusindirpun mereka tak tahu.. hahaha
Ketika berbicara
dengan para proletar
Aku selalu
memberinya bumbu-bumbu pemanis kata
Aku seperti
anomaly, borjuis kapitalis hegemoni kudeta kontroversi dan
konspirasi di
intervensi seiring kupercikkan ludah-ludah panasku!
Oh iya satu lagi
yang kurang,
dulu… aku
terkenal dengan sebutan “Gondrong tak berilmu”
lalu.. kubuang
semua kutu, kupangkas habis rambutku…
alasanku masuk
akal, panas, gatal, dan agak bau..
Tapi aku tak bisa
melepas topeng seringai dikepalaku
Padahal tak
jarang aku dihantarkan “malu” oleh itu…
Dan kini aku
seperti kaum-kaum borjuis intelek
Dengan rambut
cepak membuat gadis-gadis bergincu tak bisa mengelak
Kuhamburkan
retorika cintaku lewat gelak
Walau terkadang
selalu berujung pada pukulan telak..
Mungkin itu yang
menghempaskanku ke taman baca
Sebenarnya aku
benci buku bacaannya, tapi disana banyak ganja
Aku berpesta
sembari menahan tawa lewat gesture membaca
Seperti Plato lah
kelihatannya dari kejauhan, tak ada yang bakal mendengarkanku tertawa.. hahaha
Buah pikirku
menjadi beribu rencana, kupikir akan matang dan menguning
Nyatanya,
bunganya membusuk oleh angin oktober yang menusuk..
Semu, dan sebatas
konsep ide utopis
Seperti
fatamorgana di gurun tropis
Ah ! jabatan,
gelar, citra, ganja, dan gadis-gadis,
Semuanya mati menungguku di kubangan manusia
berbau amis!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar