Aku Nampak begitu buruk,
jerawatku tumbuh sesuka hati menorehkan sedikit warna manis diantara coklatnya
kulit wajahku. Minyak di wajahku ibarat sungai-sungai kecil di musim kering
yang mengucur perlahan. Upilku seakan tak muat lagi berlama-lama di dalam hidung
ku. Bekas keringatku yang mengering bercampur debu memeluk lingkaran leherku
seperti kalung mutiara hitam dan rambutku mengeluarkan aroma asli kulit
kepalaku. Kupikir hal ini sangat wajar, alamiah dan begitu manusiawi sebelum produk Unilever menghegemoni
otak masyarakat kita, dan mendeklarasikan standarisasi kecantikan.
Lalu semua
manusia menjudge aku JELEK! BURUK! Menyedihkan katanya! Tapi sudahlah aku tak
ambil pusing dengan statement mereka aku senang seperti ini, aku merasa hidup
menjadi seorang yang Anomali.
Dengan
wajah yang lepek, rambut berminyak aku berlari melewati koridor. Dempulan bedak
bahkan tak mampu memanipulasi wajahku yang baru bangun tidur. Ada bebeapa
pasang mata menatapku seperti ngeri jikalau mereka akan seperti aku. Dasar
manusia unilever, manusia yang mengingkari bau tubuhnya sendiri!
Langkahku
terhenti di ruang 213, pintu kubuka perlahan sambil mengucapkan salam tak lupa
aku menyogok dosenku dengan senyuman, sogokan termurah dan termudah namun tak
jarang pula senyuman mengambang basi di sudut-sudut bibir. Ah andaikata
senyuman itu sama berharganya dengan uang, jelas dosenku tak membentak aku lalu
menyuruhku keluar kelas. Aku dikeluarkan dengan alasan Dosenku hanya ingin mengkuliahi sepatu dan
kemajaku katanya. Dengan langkai gontai aku meninggalkan ruang kelas,
meninggalkan dosenku sendirian di kelas yang mulai gila, ia berbicara dengan
sepatu da kemeja, ia mengabsen kemeja dan sepatu satu per satu mulai dari
Elizabeth, Caterpillar, Polo dan masih banyak lagi yang belum bisa dijangkau
olehku.
Demi membuang
jengkel aku berjalan menuju kantin, disana aku menikmati secangkir kopi dan
gorengan hangat. Aku sudah mulai melupakan kejengkelanku di kelas tadi.
Tiba-tiba kudengar suara mace-mace ¹
mengeluhkan tentang kenaikan harga-harga sembako yang dinilai sangat tidak
berperikemanusiaan. Aku sendiri merasa bahwa ini adalah pertanda akan
dinaikkannya harga makanan yang selama ini mampu kubeli dengan recehanku. Aku
juga begitu merasa bersalah dengan mace yang selalu menjadi korban hutangku di
akhir bulan. Arrggh!!!!
Lalu
kemana aku akan membuang sampah-sampah keluhanku ini? Ke Jamban? hahaaha
Sedangkan jamban di kampusku saja tak satupun yang layak digunakan. Mungkin
biaya pembangunan toilet begitu mahal hingga anggaran Rp. 3,4 milyar tidak akan
perna bisa cukup untuk menghadirkan toilet. Lalu kemana aku harus membuang
toksin-toksin yang mengambang dalam darahku? Aku tak ingin seperti mereka yang
terhormat yang duduk di kursi-kursi petinggi sana, yang toksin-toksin birahinya
telah merusak nuraninya sendiri.
Ah aku tak
mu seperti mereka, aku tak mau sakit, dan dirawat di rumah sakit, aku tak mau
membeli racun, tak mau pula di rawan para burak arogan. Lah! Kenapa aku ini??
Toh aku juga nggak bakalan diterima di rumah sakit manapun, aku kan miskin? Mana
bisa mengecap pelayanan yang layak di rumah sakit?
Esoknya ..
Kupikir
aku adalah orang golongan susah, maka aku memutuskan mengurus beasiswa untuk
studiku. Kasihan emak dan bapak di kampung, kasihan adik-adikku yang setiap hari
harus diberi asupan gizi, takut nanti kena polio atau busung lapar. Sebenarnya
keluargaku tidak takut hanya saja mereka akan malu jikala anaknya terkena
polio, malu jikalau masih ada juga anak yang menderita polio dan gizi buruk di
negeri yang katanya disebut-sebut sebagai “The Lost Atlantis” ini.
Aku
menunggu di ruang tunggu gedung dekanat. Konon disini ada banyak beadosen, eh
beasiswa yang dilucuti oleh dosen *keceplosan!* Aku kemudian berjalan memasuki
ruangan pegawai kemahasiswaan lalu meminta formulir beasiswa dan lagi-lagi aku
mendapat jawaban yang sama dari waktu ke waktu “Maaf formulir belum ada mungkin
bulan depan baru bisa!” Lah bulan depan kapan??? Ah sudahlah! Aku ikhlaskan saja beasiswa itu
untuk orang-orang yang tidak mampu hidup dalam kemiskinan. Toh aku udah biasa
hidup miskin, jelasnya aku pasti mampu!
Ada
perasaan kecewa atas segala kejadian yang terjadi hari ini, pukul 03:15 pm aku
memutuskan untuk kembali ke rumah. Kupacu sepeda motor tuaku, aku
melenggak-lenggok sperti reptil yang perutnya terluka dijalan yang super macet.
Aku melawan debu, menentang bunyi klakson yang bersahut-sahutan dari kaum borjuis,
“bunyinya begitu menjengkelkan! Ah! Mengapa kalian kaya,namun entah mengapa
begitu menyusahkan??
Nyaris
sejam lebih aku merangkak di jalan raya. Aku kenyang oleh debu dan serapah.
“Ada apa ini? Ini macetnya kenapa panjang umur
amat?”Dan Olala..!! ternyata pak
Walikota ingin melintas! Heloo!! Hanya Melintas? Dan berujung selebay ini? Hmm
wajar saja para Polisi pada beraksi sok heroic mengatur lalulintas. Hallah! Padahal
biasanya tugasnya diambil alih oleh para bocah jalanan. Giliran Walikota dan
para petinggi lewat semua pada keluar mencari perhatian. Kupikir mereka adalah orang-orang
yang kurang diperhatikan oleh kekasih mereka, itu sebabnya mereka mati-matian
mencari perhatian pada pak Walikota lelaki yang telah beristri, mempunyai anak
dan bercucu! Haha*
Sesampai dirumah aku merasa begitu letih,
kudapati aku terkapar lapar
Dengan tatapan nanar, keluhku mematikan binar,,
Note: -Mace: Panggilan untuk Ibu, mama (Makassar)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar