Sabtu, 26 Oktober 2013

Entahberantah!!


   Aku Nampak begitu buruk, jerawatku tumbuh sesuka hati menorehkan sedikit warna manis diantara coklatnya kulit wajahku. Minyak di wajahku ibarat sungai-sungai kecil di musim kering yang mengucur perlahan. Upilku seakan tak muat lagi berlama-lama di dalam hidung ku. Bekas keringatku yang mengering bercampur debu memeluk lingkaran leherku seperti kalung mutiara hitam dan rambutku mengeluarkan aroma asli kulit kepalaku. Kupikir hal ini sangat wajar, alamiah dan begitu  manusiawi sebelum produk Unilever menghegemoni otak masyarakat kita, dan mendeklarasikan standarisasi kecantikan.
Lalu semua manusia menjudge aku JELEK! BURUK! Menyedihkan katanya! Tapi sudahlah aku tak ambil pusing dengan statement mereka aku senang seperti ini, aku merasa hidup menjadi seorang yang Anomali.
                Dengan wajah yang lepek, rambut berminyak aku berlari melewati koridor. Dempulan bedak bahkan tak mampu memanipulasi wajahku yang baru bangun tidur. Ada bebeapa pasang mata menatapku seperti ngeri jikalau mereka akan seperti aku. Dasar manusia unilever, manusia yang mengingkari bau tubuhnya sendiri!
                Langkahku terhenti di ruang 213, pintu kubuka perlahan sambil mengucapkan salam tak lupa aku menyogok dosenku dengan senyuman, sogokan termurah dan termudah namun tak jarang pula senyuman mengambang basi di sudut-sudut bibir. Ah andaikata senyuman itu sama berharganya dengan uang, jelas dosenku tak membentak aku lalu menyuruhku keluar kelas. Aku dikeluarkan dengan alasan  Dosenku hanya ingin mengkuliahi sepatu dan kemajaku katanya. Dengan langkai gontai aku meninggalkan ruang kelas, meninggalkan dosenku sendirian di kelas yang mulai gila, ia berbicara dengan sepatu da kemeja, ia mengabsen kemeja dan sepatu satu per satu mulai dari Elizabeth, Caterpillar, Polo dan masih banyak lagi yang belum bisa dijangkau olehku.
Demi membuang jengkel aku berjalan menuju kantin, disana aku menikmati secangkir kopi dan gorengan hangat. Aku sudah mulai melupakan kejengkelanku di kelas tadi. Tiba-tiba kudengar suara mace-mace ¹ mengeluhkan tentang kenaikan harga-harga sembako yang dinilai sangat tidak berperikemanusiaan. Aku sendiri merasa bahwa ini adalah pertanda akan dinaikkannya harga makanan yang selama ini mampu kubeli dengan recehanku. Aku juga begitu merasa bersalah dengan mace yang selalu menjadi korban hutangku di akhir bulan. Arrggh!!!!
Lalu kemana aku akan membuang sampah-sampah keluhanku ini? Ke Jamban? hahaaha Sedangkan jamban di kampusku saja tak satupun yang layak digunakan. Mungkin biaya pembangunan toilet begitu mahal hingga anggaran Rp. 3,4 milyar tidak akan perna bisa cukup untuk menghadirkan toilet. Lalu kemana aku harus membuang toksin-toksin yang mengambang dalam darahku? Aku tak ingin seperti mereka yang terhormat yang duduk di kursi-kursi petinggi sana, yang toksin-toksin birahinya telah merusak nuraninya sendiri.
Ah aku tak mu seperti mereka, aku tak mau sakit, dan dirawat di rumah sakit, aku tak mau membeli racun, tak mau pula di rawan para burak arogan. Lah! Kenapa aku ini?? Toh aku juga nggak bakalan diterima di rumah sakit manapun, aku kan miskin? Mana bisa mengecap pelayanan yang layak di rumah sakit?

Esoknya ..
Kupikir aku adalah orang golongan susah, maka aku memutuskan mengurus beasiswa untuk studiku. Kasihan emak dan bapak di kampung, kasihan adik-adikku yang setiap hari harus diberi asupan gizi, takut nanti kena polio atau busung lapar. Sebenarnya keluargaku tidak takut hanya saja mereka akan malu jikala anaknya terkena polio, malu jikalau masih ada juga anak yang menderita polio dan gizi buruk di negeri yang katanya disebut-sebut sebagai “The Lost Atlantis” ini.
Aku menunggu di ruang tunggu gedung dekanat. Konon disini ada banyak beadosen, eh beasiswa yang dilucuti oleh dosen *keceplosan!* Aku kemudian berjalan memasuki ruangan pegawai kemahasiswaan lalu meminta formulir beasiswa dan lagi-lagi aku mendapat jawaban yang sama dari waktu ke waktu “Maaf formulir belum ada mungkin bulan depan baru bisa!” Lah bulan depan kapan???  Ah sudahlah! Aku ikhlaskan saja beasiswa itu untuk orang-orang yang tidak mampu hidup dalam kemiskinan. Toh aku udah biasa hidup miskin, jelasnya aku pasti mampu!
Ada perasaan kecewa atas segala kejadian yang terjadi hari ini, pukul 03:15 pm aku memutuskan untuk kembali ke rumah. Kupacu sepeda motor tuaku, aku melenggak-lenggok sperti reptil yang perutnya terluka dijalan yang super macet. Aku melawan debu, menentang bunyi klakson yang bersahut-sahutan dari kaum borjuis, “bunyinya begitu menjengkelkan! Ah! Mengapa kalian kaya,namun entah mengapa begitu menyusahkan??
Nyaris sejam lebih aku merangkak di jalan raya. Aku kenyang oleh debu dan serapah.
“Ada apa ini? Ini macetnya kenapa panjang umur amat?”Dan  Olala..!! ternyata pak Walikota ingin melintas! Heloo!! Hanya Melintas? Dan berujung selebay ini? Hmm wajar saja para Polisi pada beraksi sok heroic mengatur lalulintas. Hallah! Padahal biasanya tugasnya diambil alih oleh para bocah jalanan. Giliran Walikota dan para petinggi lewat semua pada keluar mencari perhatian. Kupikir mereka adalah orang-orang yang kurang diperhatikan oleh kekasih mereka, itu sebabnya mereka mati-matian mencari perhatian pada pak Walikota lelaki yang telah beristri, mempunyai anak dan bercucu! Haha*
Sesampai dirumah aku merasa begitu letih, kudapati aku terkapar lapar
Dengan tatapan nanar, keluhku mematikan binar,,



Note: -Mace: Panggilan untuk Ibu, mama (Makassar)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar