Jumat, 14 Juni 2013

Testimoni...(Rumah Pohon)

                Kelak, aku dan kamu duduk berdua di beranda rumah pohon yang cukup lama kita rencanakan. Kala itu, kita sudah berumur, kita merefleksi kenangan-kenangan indah kala rambutku masih hitam, sebenarnya aku ingin menyertakan rambutmu, namun, kamu terlahir beruban duluan. Tapi aku menikmati, kupikir… rambut semrawut hitam putihmu yang pun kurawat tiap hari, aroma khasnya tetap sebiasa dulu, hanya saja kala mengingat itu, rambutmu didominasi putih dan butuh perawatan lebih.



                Banyak yang lucu dari serabut kepala besarmu itu. Kuingat lagi candaku yang kukutip dari iklan shampoo favoritku “aku udah ketemu jodoh rambut, jodoh hidup belum”… dan lalu, mimik datarmu mulai pudar dalam tawa kita, tak lebih sedetik setelah kupukul mesra dahimu. Ah, tapi itu bukan iklan favoritku lagi. Kini jodoh rambutku telah pergi dan meninggalkan bercak-bercak putih di kepalaku, dan jodoh hidupku (kamu) telah kutemukan...


                Malam ini, kita bercerita tentang awal pertemuan kita, selagi anak-anak kita sibuk mengeja mimpi, kuraih lalu kugenggam jemarimu yang mulai bergetar, engkau mulai cerita..
Cara penyajianmu masih seperti dulu, kau selalu bercerita lewat cara historical. Mulai dari hal-hal kecil yang kebanyakan intermezzo yang semakin menunjukkan ketakutanmu akan lethologica, dan tiap-tiap kalimat krusialmu yang selalu kau akhiri dengan tawa nervousmu.

Testimoni...(Rumah Pohon)


                Lagi, malam ini kau kembali bernostalgia, tentang pertama kali kau mengerti semiotika rasaku, tentang euphoria pertama yang menahanmu berhari-hari di kamarku, tentang pertanyaan-pertanyaanmu dari tiap-tiap cerita laluku, tentang kita, dan tak luput cerita tentang pengalaman vulgarmu dengan bekas pacarmu.

                Walau dengan sedikit sungkawa dan rasa cemburu, namun semuanya bisa kita lewati. Mungkin karena biasa, sehingga kita menganggap itu hanya tanda koma yang mengajak kita berhenti sejenak untuk merefleksi. Seberapa kuat rasa saling memahami kita ? dan sekedar mengingatkan, kau begitu berharga.

                Kita telah berjuang keras menaklukkan berbagai koma, ada yang akrab seperti “halo”, dan ada juga yang berbuah penyesalan berwarna ungu tua..
merdeka, di sini tidak akan ada lagi terror-terror bekas pacar psikopatku yang tempo hari membatasi demokratisnya cinta kita. Kita hanya tinggal mendaki koma-koma terjal yang membentuk jalur untuk titik di puncak sana, atau menunggu koma terakhir datang bersama waktu yang kemudian akan menghantarkan jiwaku kurang dari satu detik sebelum jiwamu dituntun ke tujuan yang sama denganku, ke puncak titik Nirwana.

                Namun sebelumnya, aku ingin mendidik anak-anak kita agar kelak, ia tidak mengalami fiasko, seperti aku sebelum mengenalmu. Anak yang mampu memahami bahwa hidup itu flip-flop, gelap tidak akan selamanya gelap, tetap pragmatis tak usah histeris.
anak-anak yang bibirnya terus melafalkan syair-syair Tuhan yang tiada jeda, mengiringi kita meniti Nirwana.


Setidaknya, sebelum mencapai titik koma yang terakhir, aku ingin menimang cucu bersamamu…


Tidak ada komentar:

Posting Komentar