Tuhanku
ku ingin berkelana
kembali mencari jalan ke rumah
bukan di sini tempat ku
(Dewi Dee Lestari)
Pulang selalu membawa sejuta kebahagiaan dalam imaji ku. Aku selalu merindukan bau rerumputan pagi, bunga teratai yang mengambang indah di rawa samping rumahku, di tepi rawa tumbuh pohon kelapa miring yang selalu kupanjati kala aku merajuk, aku juga merindukan kawan-kawan lawas di masa kecil. Ada masih banyak lagi mozaik-mozaik masa indah yang terekam di benakku bahkan aksara tak mampu mendeskripsikannya.
Pulang kali ini memberikan animo yang meletup-letup di kepalaku, ada jutaan planning untuk bersenang-senang menghabiskan tiga bulanan disana. Aku menyandarkan bahuku pada kursi bus yang empuk, kukencangkan sabuk pengaman ku lalu memulai memutar film kenangan lawas di ilusiku, samar-samar terdengar penggalan lagu "Rumah kita, ada di sini..." *Dramatis*
Kuinjakkan kakiku telanjangku di pekarangan rumahku, kubiarkan ia digerayangi embun yang masih melekat direrumputan. Aku berjalan menuju rawa, kudapati akar teratai membusuk di rawa yang mengering, tandus, sedikit kecewa kulemparkan pandanganku menuju pohon kelapa miring , kudapati hanyalah bangunan baru yang belum jadi, Cukup!! Aku mulai berjalan keluar dari pekarangan rumahku berharap aku bertemu teman-teman lawasku, sekedar melepas rindu atau bahkan bercerita tentang penjual bubur kacang ijo langganan kami dulu.
Lagi.. aku mengalami fiasko, harapanku kembali tak sejalan dengan realitas, kawan-kawan lawasku semuanya telah bermigrasi ke kota mengikuti suami-suami mereka, tinggallah aku sendiri berselimutkan embun kesepian, seketika aku merasa kehilangan jejak-jejak masa kecilku.
Aku kembali ke rumah.. kutemui penghuni rumah menjadi zombie modern, akibat terlalu banyak mengonsumsi racun yang bernama televisi. Jutaan kata-kata sarkas menghujaniku, aku dipaksa mengimani dogma-dogma bodoh. Mereka menuntut apa yang telah mereka beri dengan imbalan mengendalikan ku seperti robot control, kami bertengkar sengit pada pagi itu, hingga pada akhirnya seperti yang selalu terjadi ketika kami bertengkar mereka mengeluarkan kata-kata pamungkas mereka. bagaikan toksin yang mematikan seketika aku mati dan berhenti melawan.
Lalu.aku tersadar, kepulanganku kali ini benar-benar salah alamat,kampung yang seharusnya kudatangi kini bertransformasi menjadi kota karbitan! seketika aku ingin kembali ..
Aku ingin BEBAS!! LEPAS! MERDEKA! walau itu harus dibayar dengan peniadaan namaku didalam kartu keluarga. Toh!! kartu hanya sebuah simbolis, dan saya tidak membutuhkan simbolis cukup sedikit kebebasan cinta dan pengertian. Tapi sudahlah aku sudah terlanjur bosan, kini saatnya berkelana mencari rumah yang sesungguhnya!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar