Aku adalah
seorang pencemburu! Di darahku mengalir deras dara pencemburu, panas dan
kental. Aku cemburu dengan setiap orang yang kujumpai, aku cemburu dengan apa
yang dimiliki orang lain.
Aku
mempunyai daftar orang yang belakangan ini terlalu mengusik rasa cemburuku
hingga meninggalkan luka menganga di sudut hatiku. Orang yang jujur kuakui ia
lebih berbakat daripada aku, lebih cantik, lebih cerdas dan… “PLAK!!” ngomong
apa sih?? Kenapa aku menceritakan kebaikannya mereka? Mereka itu tak lebih dari
wanita-wanita murahan! Penjual kosmetik! Otak kosong!
Namanya
Eka Lestari! Aku begitu cemburu kepadanya setiap hari orang-orang selalu
mengelu-elukan dia,bahkan Cakra sahabatku yang kutaksir dari setahun lalu -diam
menaruh hati padanya. Eka adalah sosok perempuan yang lemah
lembut,perhatian,penyayang dan sosok wanita idaman mertua. Astaga!! kulitnya
putih natural, lebih putih dari kulitku yang setiap hari kurawat dengan sabar!
Pernah
suatu hari Cakra mengajak aku dan Eka berkunjung ke rumahnya. Eka dengan
keramahannya mampu berinteraksi langsung dengan ibunya Cakra, bahkan dengan
telaten ia menari-nari menemani ibunya membuat kue di dapur bersama. Kayla juga
menceritakan jikalau ia seorang penari yang hebat, lalu ibu Cakra menimpali
“Kamu dan Cakra
sepertinya cocok nak! Kalian akan disatukan oleh darah seni. Nikahnya bisa
sakral loh!”
Lalu aku?? Aku
duduk di sudut kursi dengan setumpuk bacaanku yang sedari tadi pura-pura
kubaca. Kubolak-balik, kuremas-remas sampulnya,betapa jengkelnya aku. Aku pamit
dan segera berlalu sambil membayangkan betapa bahagianya menjadi Eka.
Kemudian
aku juga menaruh cemburu kepada si Andi Shely si gadis manis dengan sejuta
prestasi dari Makassar. Wajahnya begitu menawan, hidungnya, matanya dan
kulitnya yang coklat bersih ah! Ia juga penulis, kritis tajam tulisannya selalu dimuat di berbagai
media dan.. Tiba-tiba aku merasa mual, antara jijik dan kagum. Shely berhasil
meluluhkan hati teman-temanku , ia sepertinya lebih dikenal dan selalu
dicari-cari oleh teman-temanku. Arghhh!!!
Eka
dan Shely hanya sebagian kecil korban dari rasa cemburuku ini, aku juga pernah
cemburu kepada Ibuku sendiri. Betapa bahagianya menjadi Ibu, yang cantik dan
begitu rupawan ia dicintai oleh Ayah dengan tulus, ah mengapa semua wanita di
dunia seketika menjengkelkan??? Mengapa???
Seketika
air mataku tumpah, jakunku naik turun, bukan karena nafsu hanya saja kabut
kesedihan yang kuhirup kini semakin tebal, aku tak bisa bernafas dengan baik.
Mataku perih lalu air mata jatuh semakin deras hingga tak terbendung lagi!
“Ibu aku muak jadi banci!!”
Aku banci tak bisa menari
Aku banci tapi tak cantik tak pula tampan
Aku banci pencemburu tapi begitu lemah
Aku banci ingin membunuh tapi masih takut dosa…
Aku banci bukan banci.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar