Senin, 21 Oktober 2013

Mak Asu!

Aku suka menyusui anakku..
Kata orang jikalau menyusui, akuakan mendapatkan pahala
Namun menurutku aku menemukan suatu sensasi tersendiri…
Entah apa namanya..
Ini gila!



                Kamarku yang sempit,terasa semakin sempit bau keringat menyeruak kemana-mana, suara dengkuran anakku Karsa  semakin jelas terdengar. Kupandangi wajahnya lekat-lekat ia sama sekali tak mirip dengan Sugiman ayahnya. Karsa lebih tampan dari ayahnya, hidungnya yang bangir melengkung indah di wajahnya, bulu matanya lentik, kulitnya bersih bibirnya yang ranum dan badannya yang tegap perkasa bak seorang prajurit. Berbeda dengan Sugiman yang hitam, pesek kurus dan berbibir tebal. Sepertinya ia memang bukan anak Sugiman.
                Kupandangi Karsa sekali lagi, aku mencoba mengingat-ingat kembali lelaki yang pernah tidur denganku. Ah! Ternyata Hidung Karsa yang bangir itu mirip Joe si pria blasteran yang beberapa tahun lalu pernah menjalin cinta denganku, lalu matanya seperti mata Agung anak dari salah satu anggota DPR yang kudengar-dengar kariernya semakin meanjak,badan dan bibirnya sangat mirip dengan Frans, seorang bule prancis yang selalu merayuku dengan kata-kata manisnya.
                Wajar saja jikalau Sugiman menceraikan aku! Kata istri pertamanya aku seorang Lonte yang tak layak diperistrikan oleh lelaki dari keluarga beriman seperti Sugiman. Cuiih! Asu! Toh itu hanya akal-akalan mereka saja. Bukankah dulu Sugiman setiap habis berdakwah ia selalu mampir di tempatku, memesan bir dan mengecup bibir? Tidakkah ia lupa bahwa dulu aku selalu menolak bercinta dengannya, mengingat ia sama sekali bukan orang berkelas seperti yang aku dan kawan-kawanku inginkan.?
                Aku lebih memilih bercerai dan kembali melonte daripada harus rela dimadu. Aku bukan tipikal wanita yang terlalu menggantungkan diri kepada suami, yang bisa diiming-imingi pahala, surga atau entah apa lagi namanya.
Aku tak takut dosa!! Aku juga tak percaya surga. Aku ingin bebas, lepas dari segala belenggu yang menjadikanku manusia munafik. Bukankah begini terasa lebih baik? Toh aku punya aturan tersendiri akan hidupku dan kupikir itu lebih manusiawi daripada kitab-kitab yang orang sembah. Mereka seenaknya saja membuat peraturan yang sama bagi orang yang berbeda lalu menganggap hina bagi yang melanggar. Ah Asu!
                Karsa kini telah memasuki sekolah menengah tingkat pertama, sebentar lagi ia akan menjadi pria dewasa, ketampanan Karsa semakin jelas terlihat, namun ada yang sedikit berbeda dari Karsa, ia masih saja bermain-main dengan susuku, ia tak bisa tidur jika tak disusui olehku.
                Setiap malam Karsa kususui walau susuku tak lagi produktif  namun masih begitu kencang karena aku selalu merawatnya, dan tak lupa pula aku meminum jamu agar tetap singset bak perawan.
                Malam ini udara begitu panas, kunyalakan kipas angin dikamarku sambil menunggu Karsa diluar sibuk mengerjakan tugas bersama teman-temannya iseng-iseng aku menggerayangi diri sendiri. Ah! Ternyata aku masih bergairah seperti dahulu, sudah begitu lama aku tak pernah melakukannya. Walau terkadang aku tak tahan akan rayuan  beberapa pria yang sempat mampir di rumah namun hanya kuladeni sebatas teras saja tidak lebih.
                Tiba-tiba Karsa datang, seperti biasa aku menyusuinya namun ada yang berbeda dari malam ini , Karsa menyusu dengan garangnya, geloraku kembali membara aku merasa seperti muda kembali. Kucoba menahan nafsuku namun Karsa semakin membangkitkan semangat ranjangku. Ah! Sialan aku tak bisa lagi membendungnya lalu kukulum bibir Karsa anakku sendiri, aku tak lagi memandang Karsa sebagai anak ia lebih mirip teman ranjangku.
                Aku dan karsa melewati malam dengan cumbuan-cumbuan panas malam itu, lalu tiba-tiba
“Crooottt…Croot. Blassssst!!!!”  Karsa mengalami ejakulasi, ia terkulai lemas begitupun denganku. Karsa bertanya “Mak yang tadi itu namanya apa? Mengapa rasanya begitu berbeda?”. Ah Karsa betapa polosnya kamu.
“Yang tadi itu adalah bukti sayangnya Emak ke kamu nak!”
“Emak sering-sering yah sayang-sayangin Karsa.”
“pasti sayang!” ucapku sambil mengecup dahinya.
 Lalu kami tertidur pulas. Ada senyuman kecil melengkung di bibirnya yang indah.

                Gila!! Ah dunia gila atau aku yang gila?? Entahlah keduanya sulit dipisahkan begitupun aku dan anakku Karsa, kami melewatkan malam-malam kami dengan bercinta hingga pagi. Aku tak lagi merasa kesepian. Masalah dosa? Aku tak takut dosa, toh bukannya dosa hanya ada dalam kitab dogma agama yang bisa mengontrol kita lalu menjadikan kita orang-orang munafik??

Hahahahahahaahaha!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar