Aku suka menyusui anakku..
Kata orang jikalau menyusui, akuakan mendapatkan pahala
Namun menurutku aku menemukan suatu sensasi tersendiri…
Entah apa namanya..
Ini gila!
Kamarku
yang sempit,terasa semakin sempit bau keringat menyeruak kemana-mana, suara
dengkuran anakku Karsa semakin jelas
terdengar. Kupandangi wajahnya lekat-lekat ia sama sekali tak mirip dengan
Sugiman ayahnya. Karsa lebih tampan dari ayahnya, hidungnya yang bangir
melengkung indah di wajahnya, bulu matanya lentik, kulitnya bersih bibirnya
yang ranum dan badannya yang tegap perkasa bak seorang prajurit. Berbeda dengan
Sugiman yang hitam, pesek kurus dan berbibir tebal. Sepertinya ia memang bukan
anak Sugiman.
Kupandangi
Karsa sekali lagi, aku mencoba mengingat-ingat kembali lelaki yang pernah tidur
denganku. Ah! Ternyata Hidung Karsa yang bangir itu mirip Joe si pria blasteran
yang beberapa tahun lalu pernah menjalin cinta denganku, lalu matanya seperti
mata Agung anak dari salah satu anggota DPR yang kudengar-dengar kariernya
semakin meanjak,badan dan bibirnya sangat mirip dengan Frans, seorang bule
prancis yang selalu merayuku dengan kata-kata manisnya.
Wajar
saja jikalau Sugiman menceraikan aku! Kata istri pertamanya aku seorang Lonte
yang tak layak diperistrikan oleh lelaki dari keluarga beriman seperti Sugiman.
Cuiih! Asu! Toh itu hanya akal-akalan mereka saja. Bukankah dulu Sugiman setiap
habis berdakwah ia selalu mampir di tempatku, memesan bir dan mengecup bibir?
Tidakkah ia lupa bahwa dulu aku selalu menolak bercinta dengannya, mengingat ia
sama sekali bukan orang berkelas seperti yang aku dan kawan-kawanku inginkan.?
Aku
lebih memilih bercerai dan kembali melonte daripada harus rela dimadu. Aku
bukan tipikal wanita yang terlalu menggantungkan diri kepada suami, yang bisa
diiming-imingi pahala, surga atau entah apa lagi namanya.
Aku tak takut
dosa!! Aku juga tak percaya surga. Aku ingin bebas, lepas dari segala belenggu
yang menjadikanku manusia munafik. Bukankah begini terasa lebih baik? Toh aku
punya aturan tersendiri akan hidupku dan kupikir itu lebih manusiawi daripada
kitab-kitab yang orang sembah. Mereka seenaknya saja membuat peraturan yang
sama bagi orang yang berbeda lalu menganggap hina bagi yang melanggar. Ah Asu!
Karsa kini telah memasuki
sekolah menengah tingkat pertama, sebentar lagi ia akan menjadi pria dewasa,
ketampanan Karsa semakin jelas terlihat, namun ada yang sedikit berbeda dari
Karsa, ia masih saja bermain-main dengan susuku, ia tak bisa tidur jika tak disusui
olehku.
Setiap
malam Karsa kususui walau susuku tak lagi produktif namun masih begitu kencang karena aku selalu
merawatnya, dan tak lupa pula aku meminum jamu agar tetap singset bak perawan.
Malam
ini udara begitu panas, kunyalakan kipas angin dikamarku sambil menunggu Karsa
diluar sibuk mengerjakan tugas bersama teman-temannya iseng-iseng aku
menggerayangi diri sendiri. Ah! Ternyata aku masih bergairah seperti dahulu,
sudah begitu lama aku tak pernah melakukannya. Walau terkadang aku tak tahan akan
rayuan beberapa pria yang sempat mampir
di rumah namun hanya kuladeni sebatas teras saja tidak lebih.
Tiba-tiba
Karsa datang, seperti biasa aku menyusuinya namun ada yang berbeda dari malam
ini , Karsa menyusu dengan garangnya, geloraku kembali membara aku merasa
seperti muda kembali. Kucoba menahan nafsuku namun Karsa semakin membangkitkan
semangat ranjangku. Ah! Sialan aku tak bisa lagi membendungnya lalu kukulum
bibir Karsa anakku sendiri, aku tak lagi memandang Karsa sebagai anak ia lebih
mirip teman ranjangku.
Aku
dan karsa melewati malam dengan cumbuan-cumbuan panas malam itu, lalu tiba-tiba
“Crooottt…Croot.
Blassssst!!!!” Karsa mengalami
ejakulasi, ia terkulai lemas begitupun denganku. Karsa bertanya “Mak yang tadi
itu namanya apa? Mengapa rasanya begitu berbeda?”. Ah Karsa betapa polosnya
kamu.
“Yang tadi itu adalah
bukti sayangnya Emak ke kamu nak!”
“Emak sering-sering
yah sayang-sayangin Karsa.”
“pasti sayang!”
ucapku sambil mengecup dahinya.
Lalu kami tertidur pulas. Ada senyuman kecil melengkung
di bibirnya yang indah.
Gila!!
Ah dunia gila atau aku yang gila?? Entahlah keduanya sulit dipisahkan begitupun
aku dan anakku Karsa, kami melewatkan malam-malam kami dengan bercinta hingga
pagi. Aku tak lagi merasa kesepian. Masalah dosa? Aku tak takut dosa, toh
bukannya dosa hanya ada dalam kitab dogma agama yang bisa mengontrol kita lalu
menjadikan kita orang-orang munafik??
Hahahahahahaahaha!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar