Aku masih mengingat momen itu…
Tepatnya 3 Sptember,
pelukanmu masih begitu terasa, tubuh
kurusmu mampu memberikan sejuta ketenangan dalam kegelapan malam. Sekali engkau memeluk tubuh kecil ini,
semakin erat namun kali ini rasanya
berbeda, ada bulir hangat jatuh membasahi pipimu.
Malam itu hanya ada aku, dan kamu di antara
kata yang tak terucap seperti lirik lagu “Payung
Teduh” . Resah begitu mendominasi, sepertinya akan ada pisah di sini-
Hampir sewindu ku lalui tanpa dirimu, aku masih menunggu
dengan sabar di taman kerinduan ini, mencoba menghidupkan kembali semarak cinta
seperti waktu kita saling berceloteh tentang ironi tragedy kehidupan, namun
semuanya semakin meredup, semakin dalam lalu menghilang seperti embun pagi.
Semalam aku berjumpa dengan
seorang yang sosoknya mirip dengan mu, matanya seteduh matamu, dan gengamannya
sehangat genggamanmu, ia membawa ku terbang ke suatu tempat dimana tak ada
penderitaan, semuanya begitu damai, sedamai kasihmu. Namun semuanya kembali menghilang ketika
fajar menyingsing- Impianku terbentur oleh realita yang tak pernah saling
berdamai.
Namun . .
Wanita itu
berjanji tiga hari lagi ia akan menjemputku di sini! Dan membawaku bertemu
dengan sosok yang bernama “Tuhan!”
ibu-
Aku merindukanmu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar