Kamis, 28 Februari 2013

Menulis buku yang Baik

     Belum banyak orang meyakini bahwa buku dapat dijadikan investasi jangka panjang, baik untuk investasi dunia maupun akhirat.
    
    Investasi dunia dapat diwujudkan dari hasil materi atas penjualan buku. Investasi akhirat dapat diperoleh dari kebaikan isi tulisan yang disampaikan sang penulis. Jika satu huruf saja memberikan kebaikan kepada pembacanya, sudah barang tentu kebaikan itu akan diberikan secara berlipat kepada sang penulis. Itu akan terjadi dan dinikmati manakala sang penulis memiliki jiwa keikhlasan. Lalu, bagaimanakah kita memulai menulis buku (yang baik)?
  Saya mohon maaf karena memberikan tanda kurung-buka pada frasa “yang baik.” Cukup banyak buku ditulis dengan tujuan yang tidak baik. Ada buku yang bertujuan untuk memprovokasi massa, ada buku yang bertujuan menyesatkan pembaca, ada buku yang menyebarkan filsafat dan prinsip-prinsip baru yang kurang bijaksana dan lain-lain. Oleh karena itu, saya hanya akan mengulas teknik menulis buku yang baik berdasarkan pemahamanku atas baik menurut pemaknaan universal. Ada lima tahap penulisan buku yang baik, yaitu memahami jenis buku, merumuskan judul, membuat kerangka, mengembangkan materi, dan keterlibatan pakar
.
Memahami Jenis Buku
   Buku dapat dibedakan menjadi beragam jenis menurut sudut pandang yang berbeda-beda. Berdasarkan isinya, buku diklasifikasikan menjadi dua, yaitu buku fiksi dan buku nonfiksi. Berdasarkan peruntukannya, buku diklasifikasikan menjadi buku umum dan buku sekolah. Berdasarkan tujuannya, buku diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu buku ajar dan buku pengayaan. Masing-masing jenis buku akan memiliki metode yang berbeda-beda dalam pengembangannya.


Merumuskan Judul
Judul adalah bagian pertama yang dibaca orang. Ketertarikan pembaca dan pembeli sangat ditentukan oleh kemahiran penulis dalam merumuskan judulnya. Oleh karena itu, saya memiliki konsep judul SIAP. S berarti singkat. Judul buku sebaiknya terdiri atas maksimal 6 kata. I berarti inspiratif. Judul buku harus memberikan inspirasi bagi pembaca. A berarti aktual. Judul buku harus membahas materi aktual sehingga memiliki daya tarik yang kuat. P berarti persuasif. Judul sebaiknya memiliki daya pikat. 

Membuat Kerangka
Kerangka atau mind set sangat penting bagi kepenulisan buku. Kerangka adalah bentuk awal dari daftar isi. Bagian ini menjadi sangat penting agar alur buku mudah diikuti dan dipahami pembaca. Selain itu, penulis pun dapat menjabarkan idenya secara runtut dan tuntas. Oleh karena itu, kerangka sebaiknya disusun pada awal kepenulisan meskipun masih berkemungkinan untuk diubah. Semata itu disebabkan kompleksitas materinya.

Mengembangkan Materi
Saya mengecualikan buku fiksi karena buku fiksi dikarang oleh pengarang berdasarkan imajinasinya. Namun, imajinasi itu akan makin bagus manakala pengarang memiliki pengalaman batin yang baik pula. Untuk buku nonfiksi, sebaiknya penulis mengumpulkan bahan atau referensi. Bahan atau referensi itu dapat diperoleh dari buku lainnya, internet, wawancara, penelitian, pengalaman dan lain-lain. Setelah materi terkumpul, barulah dikembangkan menjadi sebuah bacaan yang utuh.

Keterlibatan Pakar
Dua pakar atau ilmuwan perlu dilibatkan, yaitu pakar materi dan pakar bahasa. Pakar materi perlu dilibatkan agar tidak terjadi salah konsep. Buku bertujuan menawarkan pengetahuan baru kepada para pembacanya. Jika buku itu berisi konsep atau pengetahuan, tentunya pengetahuan itu harus diakui secara keilmuan. Pakar bahasa perlu dilibatkan karena jarang penulis menguasai bidang kebahasaan dengan baik. Materi memang dikuasai dengan sangat cerdas tetapi belum tentu dapat dituliskan dengan bahasa yang enak dibaca.

Source: http://media.kompasiana.com/buku/2013/03/01/menulis-buku-yang-baik-533239.html?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kanawp

Tidak ada komentar:

Posting Komentar