“wanita hari ini sepertinya lebih memerhatikan busana dan
make up-nya”
(Soe Hoe Gie)
Setiap kali aku mendengar dan
membaca tentang kisah heroik para kaum hawa yang mengusir para penjajah biadab, menetang
revolusi , dan konspirasi aku seolah tak
percaya jikalau wanita seperti itu pernah ada di peradaban ini.
Pagi
ini aku terbangun di zaman edan, dimana eksistensi wanita di dunia ini hanya
berperan sebagai sosok penggoda, penghibur dan pemuas hasrat tak lebih dari wanita di zaman jahilliyah.
Namun kali ini tanpa sadar mereka menyerahkan jiwanya dan secara ikhlas melakoni peran sebagai pemain
opera telanjang di panggung moderenisasi. Opera telanjang dengan cerita-cerita
picisan murahan, yang terus melahap habis tiang-tiang keimanan.
Jika
bisa memilih aku ingin menjadi lelaki yang menikmati opera telanjang dengan
aktif bukan sebagai penonton passif. Aku ingin aktif bergerilya di dalam
dekapan tubuh-tubuh polos sang pelakon opera mesum itu. Namun aku hanya seorang
wanita, yang sedikitpun tak tertarik dengan tubuh polos sesama kaum ku,
seketika aku ingin mengeluarkan semua isi perutku.
Aku
berjalan menelusuri pusat-pusat kota dan berjalan terus, ratusan nona malam menjajakan
cintanya, menghiasi malam dengan bara nafsu yang menyala. Mataku terpaku pada
seorang gadis kecil yang masih belia dengan make-up dan pakaian prostitusinya
duduk membuka selangkangan sambil memamerkan buah dadanya yang masih sebesar
biji kurma atau bahakan lebih kecil lagi.
Buah dada yang di paksa membesar karena
terbungkus ole bra hitam yang di penuhi gabus busa. Jika aku seorang
lelaki mungkin aku telah terhambur di sini.
Akh!!
Betapa beruntungnya lelaki hari ini!! Tak perlu membayar mahal atau bahkan
bertuang hingga titik darah penghabisan untuk memuaskan kebutuhan bawah
perutnya hanya sedikit mengeluarkan seni berbicara picisan ,dengan di bumbui
janji palsu layaknya para politisi yang selalu berbohong, maka ia telah mampu
memilih dan menikmati selangkangan-selangkangan yang menggiurkan
itu!!
Lalu
aku perlahan menjauh, pergi meninggalkan lorong repligo itu. Aku di selimuti
kegalauan yang tak berkesudahan, aku ingin menjadi lelaki, tapi bukan lelaki
Lesbian!!
Makassar,
8 Desember 2012
Dalam kegalauan fajar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar