Senin, 20 Mei 2013

Metamorphoshit




      Makassar sebuah kota metropolitan di Sulawesi selatan yang kini mulai giat menunjukkan geliat-geliat pembangunan  menuju kota dunia yang perlahan meninggalkan budaya nya.  Kota dunia yang di dalamnya penuh keseragaman yang membosankan dimana kita hidup berkompetisi di bawah otoritas waktu, bekerja mengeksploitasi apapun , baik itu pikiran tenaga bahkan kelamin. (sensor*) 



                Jubaedah, seorang gadis lugu ala pedesaan, matanya teduh rambutnya hitam, kulitnya coklat, Ia selalu terlihat cantik meski bintang tak sedikit!

                Saat pertama kali menginjakkan kaki di Makassar  ada sejuta harapan dan rencana untuk  menaklukkan kota ini , rencana-rencana dan harapan dari orang tua dan sanak famili di kampung harapan untuk mampu berkompetisi di tengah kerasnya Ibu kota.
“Jubaedah…”
                Setahun Pertama engkau menjalani hari-hari sebagai pelajar yang baik engkau masih mematuhi petuah-petuah dari kampung halaman walau sedikit kebohongan yang kau tutupi dengan prestasi yang cukup mampu di banggakan dan menjadi buah bibir di kampung.
                Namun seiring berjalannya waktu engkaupun mengibarkan bendera putih sebagai tanda menyerah kepada ibu kota. Yah! sebagai anak yang baik engkau harus patuh kepada Ibu, (Baca: Ibu Kota).  Kini dirimu mulai mahir mendekor wajah mu dengan produk-produk unilever yang perlahan menghilangkan kesan teduh gadis pedesaan di wajahmu, uang kiriman sepertinya tak mampu lagi membiayai keinginanmu, sehingga engkau mencari cara lain  untuk memperoleh uang dan kenikmatan.  Kaki-kaki jenjangmu kini semakin jauh melangkah dari tempatmu menimba ilmu, buku-bukumu kau biarkan tertutup rapat dan tinta pulpenmu perlahan mengering tak terjamah, sepertinya dunia barumu lebih menyenangkan dari buku dan tinta.

                Tahun ketiga- engkau kini tak mampu utuk ku kenali lagi , Engkau duduk dalam sebuah kedai kopi para kaum elit di seberang jalan sana,  engkau bukanlah “ Jubaedah“ yang ku kenal ternyata namamu bukan Jubaedah lagi, tapi Juwita, ah begitu cepat dirimu berubah Jubaedah! Wajahmu kini semakin memutih , akibat zat kimia yang rutin kau oleskan setiap malam sebelum kau terlelap dalam belaian om Ruslan, om Don, atau om-om lainnya. Matamu tak sebening dulu, ah mata memang tidak bisa berbohong,! Matamu seolah meneriakkan kebenaran yang berusaha di tutupi oleh bibirmu yang memanas oleh gincu merah.



                Malam ini kali keduanya aku bertemu dengan mu, Aku menemukanmu duduk mengangkat selangkangan sambil melakukan nego bersama dua orang pelangganmu sepertinya mereka adalah dua ekor serdadu yang ingin kawin dengan mu!

                *Selamat Jalan Jubaedah, Selamat Malam Juwita, Aku datang membawa surat dari orang tuamu di kampung, mereka merindukanmu, sudah 3 kali lebaran engkau tak pernah mengunjungi mereka hingga engkau tak sadar satu dari mereka kini telah tiada, tak ketinggalan pula pesan kerinduan dari  Buku dan tinta yang merindukan belaianmu, oh aku hampir lupa SKS mu juga minta di tambah, bangku kelas juga mencarimu, begitu pula sejadah mu yang rindu akan kecupanmu, katanya kapan saja engkau datang ia siap menerimamu dalam keadaan seburuk  apapun  kamu, Mungkin itu saja dari mereka yang menyayangimu, selamat bekerja!!
                

2 komentar: