Makassar
sebuah kota metropolitan di Sulawesi selatan yang kini mulai giat menunjukkan
geliat-geliat pembangunan menuju kota
dunia yang perlahan meninggalkan budaya nya.
Kota dunia yang di dalamnya penuh keseragaman yang membosankan dimana
kita hidup berkompetisi di bawah otoritas waktu, bekerja mengeksploitasi apapun
, baik itu pikiran tenaga bahkan kelamin. (sensor*)
Jubaedah, seorang gadis lugu ala pedesaan,
matanya teduh rambutnya hitam, kulitnya coklat, Ia selalu terlihat cantik meski
bintang tak sedikit!
Saat
pertama kali menginjakkan kaki di Makassar
ada sejuta harapan dan rencana untuk
menaklukkan kota ini , rencana-rencana dan harapan dari orang tua dan
sanak famili di kampung harapan untuk mampu berkompetisi di tengah kerasnya Ibu
kota.
“Jubaedah…”
Setahun
Pertama engkau menjalani hari-hari sebagai pelajar yang baik engkau masih
mematuhi petuah-petuah dari kampung halaman walau sedikit kebohongan yang kau
tutupi dengan prestasi yang cukup mampu di banggakan dan menjadi buah bibir di
kampung.
Namun
seiring berjalannya waktu engkaupun mengibarkan bendera putih sebagai tanda
menyerah kepada ibu kota. Yah! sebagai anak yang baik engkau harus patuh kepada
Ibu, (Baca: Ibu Kota). Kini dirimu mulai
mahir mendekor wajah mu dengan produk-produk unilever yang perlahan
menghilangkan kesan teduh gadis pedesaan di wajahmu, uang kiriman sepertinya
tak mampu lagi membiayai keinginanmu, sehingga engkau mencari cara lain untuk memperoleh uang dan kenikmatan. Kaki-kaki jenjangmu kini semakin jauh
melangkah dari tempatmu menimba ilmu, buku-bukumu kau biarkan tertutup rapat
dan tinta pulpenmu perlahan mengering tak terjamah, sepertinya dunia barumu
lebih menyenangkan dari buku dan tinta.
Tahun
ketiga- engkau kini tak mampu utuk ku kenali lagi , Engkau duduk dalam sebuah
kedai kopi para kaum elit di seberang jalan sana, engkau bukanlah “ Jubaedah“ yang ku kenal ternyata
namamu bukan Jubaedah lagi, tapi Juwita, ah begitu cepat dirimu berubah
Jubaedah! Wajahmu kini semakin memutih , akibat zat kimia yang rutin kau
oleskan setiap malam sebelum kau terlelap dalam belaian om Ruslan, om Don, atau
om-om lainnya. Matamu tak sebening dulu, ah mata memang tidak bisa berbohong,! Matamu seolah meneriakkan kebenaran yang berusaha di tutupi oleh bibirmu yang
memanas oleh gincu merah.
Malam
ini kali keduanya aku bertemu dengan mu, Aku menemukanmu duduk mengangkat
selangkangan sambil melakukan nego bersama dua orang pelangganmu sepertinya
mereka adalah dua ekor serdadu yang ingin kawin dengan mu!
*Selamat
Jalan Jubaedah, Selamat Malam Juwita, Aku datang membawa surat dari orang tuamu
di kampung, mereka merindukanmu, sudah 3 kali lebaran engkau tak pernah
mengunjungi mereka hingga engkau tak sadar satu dari mereka kini telah tiada,
tak ketinggalan pula pesan kerinduan dari
Buku dan tinta yang merindukan belaianmu, oh aku hampir lupa SKS mu juga
minta di tambah, bangku kelas juga mencarimu, begitu pula sejadah mu yang rindu
akan kecupanmu, katanya kapan saja engkau datang ia siap menerimamu dalam keadaan
seburuk apapun kamu, Mungkin itu saja dari mereka yang
menyayangimu, selamat bekerja!!
keureeunnn!!
BalasHapushahahahahha IRONI
BalasHapus